Selasa, 07 Oktober 2014

FILSAFAT MANUSIA : ETOS KERJA, SENI, BUDAYA, dan AGAMA

FILSAFAT MANUSIA
Etos Kerja, Seni, Budaya, dan Agama

Definisi Kerja 

Kerja atau pekerjaan merupakan segala kegiatan yang direncanakan, yang melibatkan pikiran dan kemauan yang sungguh-sungguh serta memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai. 

Dua Elemen Kerja 

Terdapat elemen subjek dan objek. Elemen subjek adalah potensi atau kekuatan yang melekat di dalam diri manusia. Elemen ini meliputi pikiran, keinginan, hati, kebebasan, kehendak, dan kemampuan. Elemen objektif merupakan sarana pendukung untuk merealisasikan pikiran, rencana, serta kehendaknya. Dua elemen tersebut sangat penting dalam kerja. 

Tiga Dimensi Kerja : 
  1. Dimensi Personal 
  2. Dimensi Sosial 
  3. Dimensi Etis
Etos Kerja 

Etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja. (Pelly, 1992:12)

Etos kerja dapat juga diartikan sebagai konsep tentang kerja atau paradigma kerja yang diyakini seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas (Sinamo, 2003:2). 

Kerja Bermartabat

Kerja bermartabat merupakan komitmen setiap organisasi untuk membangun lingkungan kerja yang kondusif dan positif sedemikian rupa agar tebangun hubungan kerja yang manusiawi. 

HAKIKAT SENI DAN ESTETIKA 

Seni atau kesenian dapat didefinisikan sebagai manifestasi budaya (priksa atau pikiran dan rasa; karsa atau kemauan; karya atau hasil dan perbuatan) manusia yang memenuhi syarat-syarat estetik. 

Seni dapat dibedakan menjadi : 
  • Seni sastra
  • Seni musik
  • Seni tari 
  • Seni rupa 
  • Seni drama atau teater
HAKIKAT AGAMA 

Agama berasal dari bahasa Sansekerta, "a" yang berarti tidak dan "gama" berarti kacau. Secara etimologis, agama berarti tidak kacau. Jadi, fungsi agama dalam pengertian ini adalah memelihara integritas dan seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam sekitarnya tidak kacau. 

Ketidakkacauan ini disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas, nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang, dimaknai, dan diberlakukan. 

Dalam bahasa Inggris agama berarti religion dan dalam bahasa latin berarti religio. Kedua kata ini berakar dari kata religare yang berarti mengikat. Dalam pengertian religio termuat peraturan tentang kebaktian bagaimana manusia mengutuhkan hubungannya dengan realitas tertinggi (vertikal) dalam penyembahan dan hubungannya secara horizontal. 

HAKIKAT BUDAYA 

Secara etimologis budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddiayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. 

Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture yang berasal dari kata Latin, colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.  Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai kultur dalam Bahasa Indonesia. 

Budaya dalam arti luas yaitu pancaran daripada budi dan daya. Seluruh apa yang dipikir, dirasa, dan direnung diamalkan dalam bentuk daya menghasilkan kehidupan. 

Budaya adalah cara hidup suatu umat. Budaya tidak lagi dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi dan murni suatu bangsa untuk mengatur kehidupan berasaskan peradaban. 

Sumber : Modul KBK Filsafat hlm. 132-161

SEMOGA BERMANFAAT !!!

FILSAFAT PSIKOLOGI

FILSAFAT PSIKOLOGI

Filsafat sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan termasuk psikologi memiliki hubungan dengan setiap disiplin ilmu. Sejauh mana hubungan itu ? 

Pada awal perkembangannya hingga abad 19 psikologi dikembangkan oleh para ahli filsafat yang kurang melandasi pengamatannya pada fakta konkrit, tapi pada refleksi abstrak dan spekulatif. 

Pada perkembangan psikologi selanjutnya dirasakan perlu melakukan metode lain, yaitu metode empiris. Kendati psikologi berpisah dengan filsafat, khususnya filsafat ilmu terutama menyangkut sifat, hakekat, dan tujuan ilmu pengetahuan. 

Tokoh awal Psikologi 

Sang pendiri psikologi, Wilhelm Wundt (1832-1920) yang mendirikan laboratorium psikologi pertama di dunia adalah seorang ketua bagian filsafat di Universitas Leipzig Jerman. Bagi Wundt tugas psikologi adalah mempelajari proses dasar manusia berupa pengalaman langsung, hubungan dan kombinasi pengalaman-pengalaman itu. 

Wundt dan pengikutnya kemudian mengembangkan aliran strukturalisme dalam psikologi. 

Sementara William James (1842-1910) berpendapat bahwa kesadaran manusia itu bersifat unik, bersifat pribadi dan setiap saat berubah-ubah. Dengan aliran fungsionalismenya, James berpendapat psikologi harus meneliti secara mendalam bagaimana proses mental itu berfungsi. 

Sementara John Watson dengan aliran behaviorismenya berpendapat bahwa psikologi seharusnya mempelajari kejadian-kejadian yang terjadi di sekeliling (rangsangan/stimulus) dan perilaku yang dapat diamati (respon). 

Ketiga aliran di atas (strukturalisme, fungsionalisme, dan behaviorisme) memiliki landasan filosofis masing-masing. Behaviorisme misalnya dipengaruhi o;eh positivisme yang berakar pada empirisme/pengalaman. Tesis positivisme adalah bahwa satu-satunya pengetahuan yang valid dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi objek pengetahuan. 

Landasan Filosofis Berbagai Aliran Psikologi

Ontologi pada positivisme sejalan dengan dasar pemikiran yang digunakan oleh pendekatan behaviorisme (perilaku) yang ada pada psikologi. Pada pendekatan ini, perilaku merupakan kegiatan organisme yang dapat diamati. Dengan pendekatan perilaku, seorang ahli psikologi mempelajari individu dengan cara mengamati perilakuny dan bukan mengamati kegiatan bagian dalam tubuh. 

Aliran psikologi Gestalt mempunyai banyak tokoh terkemuka, antara lain Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, dan Max Wertheimer. Aliran psikologi Gestalt ini nampaknya merupakan aliran yang cukup kuat dan padu. Falsafah yang dikemukakannya sangat mempengaruhi bentuk psikologi di Jerman, yang kelak juga akan terasa pengaruhnya pada psikologi di Amerika Serikat (terutama dalam penelitian mengenai persepsi). Hal itu nampak dari kedua aliran psikologi modern yang sezaman, yaitu aliran Humanisme dan kognitif (Davidoff, 1988: 16-19).

Telaah filosofik Gestalt dapat didekati dengan fenomenologi. Heidegger adalah juga seorang fenomenolog. Fenomenologi memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Heidegger adalah murid Edmund Husserl (1859-1938), pendiri fenomenologi modern. Husserl adalah murid Carl Stumpf, salah seorang tokoh psikologi eksperimental "baru" yang muncul di Jerman pada akhir pertengahan abad XIX. Kohler dan Koffka bersama Wertheimer yang mendirikan psikologi Gestalt juga murid Stumpf dan mereka menggunakan fenomenologi sebagai metode untuk menganalisis gejala psikologis. Fenomenologis adalah deskripsi tentang data. Fenomenologi berusaha memahami dan bukan menerangkan gejala-gejala. 

Menurut aliran psikoanalisa, psikologi seharusnya mempelajari dengan tekun mengenai hukum dan faktor-faktor penentu di dalam kepribadian (baik yang normal ataupun yang tidak normal), dan menentukan metode penyembuhan bagi gangguan kepribadian. 

Freud sangat terpengaruh oleh filsafat determinisme dan positivisme ilmu pengetahuan abad XIX. Analisa terhadap pandangan psikoanalisis tersebut, terutama yang berkaitan dengan tugas terapis yaitu observasi dan interpretasi perilaku, sejalan dengan metodologi positivisme Auguste Comte. 

Psikolog yang berorientasi humanistik mempunyai satu tujuan, mereka ingin memanusiakan psikologi. Mereka ingin membuat psikologi sebagai studi tentang "apa makna hidup sebagai seorang manusia".

Psikologi kognitif memiliki landasan filosofis rasionalisme. Tokoh aliran filsafat rasionalisme ialah Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Dalam rasionalisme, usaha manusia untuk memberi kepada akal suatu kedudukan yang berdiri sendiri. Abad ke-17 adalah abad dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam arti yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, sehingga tampaklah adanya keyakinan bahwa dengan kemampuan akal pasti dapat diterangkan segala macam permasalahan dan dapat dipecahkannya segala macam masalah kemanusiaan. 

Filsafat dan Ilmu Psikologi

Filsafat ilmu, sebagai salah satu cabang filsafat, memberikan sumbangan besar bagi perkembangan Ilmu Psikologi. Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang hendak merefleksikan konsep-konsep yang diandaikan begitu saja oleh para ilmuwan, seperti konsep metode, objektivitas, penarikan kesimpulan, dan konsep standar kebenaran suatu pernyataan ilmiah,

Filsafat bisa menegaskan akar historis ilmu psikologi. Seperti kita tahu, psikologi, dan semua ilmu lainnya, merupakan pecahan dari filsafat. Di dalam filsafat, kita juga bisa menemukan refleksi-refleksi yang cukup mendalam tentang konsep jiwa dan perilaku manusia. Refleksi-refleksi semacam itu dapat ditemukan baik di dalam teks-teks kuno filsafat maupun teks-teks filsafat modern. 

Sumber : Fotokopi Kapita Selekta blok Filsafat 6 Oktober 2014 dengan perubahan.  

SEMOGA BERMANFAAT !!

Minggu, 05 Oktober 2014

EKSISTENSIALISME SARTRE

EKSISTENSIALISME 
MENURUT JEAN PAUL SARTRE



Siapa itu Jean Paul Sartre ?


  • Lahir di Paris 1905
  • 1929 menjadi guru
  • 1931-36 dosen filsafat di Le Havre
  • 1941 menjadi tawanan perang
  • 1942-44 dosen Loycee Pasteur
  • Banyak menulis karya filsafat dan sastra.
  • Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger.
Pemikiran Filsafat Sartre 


Sulit menjabarkan pemikiran filsafat Sartre scr singkat. Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sbg dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dg keberadaan benda lain yg tdk punya kesadaran. Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yg keberadaannya sekaligus berarti esensinya.  Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. 

Asas pertama utk memahami manusia hrs mendekatinya sbg subjektivitas. Apapun makna yg diberikan pd eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab. Tanggungjawab yg menjadi beban kita jauh lebih besar dr sekedar tanggungjawab thdp diri kita sendiri.

Sartre membedakan konsep ‘berada dlm diri’ dan ‘berada untuk diri’

Berada dalam diri = berada an sich, berada dlm dirinya, berada itu sendiri. Mis. meja itu meja, bukan kursi, bukan tempat tidur. Semua yang berada dalam diri ini tdk aktif. Menaati prinsip it is what it is. Maka bagi Sartre  segala yang berada dalam diri: memuakkan.

Sementara berada untuk diri=berada yg dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dg keberadaannya. Bertanggungjawab atas fakta bhw ia ada. Mis. Manusia bertanggungjawab bhw ia pegawai, dosen. Benda tdk sadar bhw dirinya ada, tp manusia sadar bhw dia berada. Pd manusia ada kesadaran.

Biasanya kesadaran kita bukan kesadaran akan diri, melainkan kesadaran diri. Akan tetapi, ketika secara reflektif menginsyafi cara kita mengarahkan diri pada objek. Kesadaran kita akan diberi bentuk kesadaran akan diri. 

Tuhan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban karena Tuhan tidak terlibat dalam pengambilan putusan yang dibuat oleh manusia. Manusia adalah kebebasan dan hanya sebagai makhluk yang bebaslah, ia bertanggung jawab. 

Tanpa kebebasan, eksistensi manusia akan menjadi absurd. Bila dilepaskan dari kebebasannya, manusia akan menjadi sekedar esensi belaka. 

Apakah yang mengurangi kebebasan manusia ?

Beberapa kenyataan (kefaktaan) yg mengurangi penghanyatan kebebasan:
  1. Tempat kita berada: situasi yg memberi struktur pd kita, tp juga kita beri struktur.
  2. Masa lalu: tdk mungkin meniadakannya krn masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
  3. Lingkungan sekitar (Umwelt).
  4. Kenyataan adanya sesama manusia dg eksistensinya sendiri.
  5. Maut: tdk bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Walaupun kefaktaan ini melekat dlm eksistensi manusia, tapi kebebasan eksistensial tdk bisa dikurangi/ditiadakan.

Ketubuhan Manusia

Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sbg wujud yg bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia.

Tubuh sbg pusat orientasi tdk bisa dipandang sbg alat sematamata, tp mengukuhkan kehadiran kita sbg eksistensi.

Komunikasi dan Cinta

Komunikasi = suatu hal yg apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, krn setiap kali org menemui org lain pd akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yg seorg seolah2 membekukan org lain. Terjadi saling pembekuan shg masing2 jadi objek.

Cinta = bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa krn objektifikasi yg tak terhindarkan.

Sumber : Slide Presentasi Filsafat 3 Oktober 2014 dengan perubahan yang diakses dan diunduh pada 5 Oktober 2014.






Jumat, 03 Oktober 2014

EKSISTENSIALISME KIERKEGAARD

EKSISTENSIALISME 
MENURUT KIERKEGAARD



Apa itu Eksistensialisme ? 
Merupakan aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lain. 

Jiwa ekstensialisme ialah pandangan manusia sebagai eksistensi. 

Secara etimologis, ekstensialisme berasal dari kata Ex = keluar, Sistentia (Sistere) = berdiri. Manusia bereksistensi berarti manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya.

Pusat diriku terletak di luar diriku. Ia menemukan pribadinya dengan seolah-olah keluar dari dirinya sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang di luar dirinya. 

Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi tidak bisa disamakan dengan 'berada'. Pohon, anjing berada, tetapi tidak bereksistensi. 

Eksistensialisme dari segi isi bukan satu kesatuan, tapi lebih merupakan gaya berfilsafat. 

Beberapa tokoh : Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dll.

Sulit menyeragamkan definisi Eksistensialisme karena adanya perbedaan pandangan mengenai eksistensi itu sendiri. 

Namun satu hal yang sama : filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai bereksistensi, maka bagi manusia, eksistensi mendahului esensi. 

Ciri-ciri Eksistensialisme : 
  1. Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi. 
  2. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, dan merencanakan. 
  3. Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya. 
  4. Memberi penekanan pada pengalaman konkrit. 
Pokok-pokok ajaran Kierkegaard : 

Menurut Kierkegaard, eksistensi manusia individual dan konkrit. Manusia tidak dapat dibicarakan 'pada umumnya' atau 'menurut hakikatnya', karena manusia pada umumnya tidak ada. 

Yang ada itu adalah manusia konkrit yang semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan. Manusia itu eksistensi. 

Eksistensi berarti bagi Kierkegaard : merealisasi diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya. 

Hanya manusia bereksistensi, karena dunia, binatang dan sesuatu lainnya hanya 'ada'. Tuhan juga 'ada', Tapi manusia harus bereksistensi, yakni menjadi (dalam waktu) seperti ia (akan) ada (secara abadi).

Tiga cara bereksistensi : 
  • Sikap Estetis : merengguh sebanyak mungkin kenikmatan yang dikuasai oleh perasaan. 
  • Sikap Etis : Sikap menerima kaidah-kaidah moral, suara hati, dan memberi arah pada hidupnya. 
  • Sikap Religius : Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. 
Manusia menjadi seperti yang dipercayainya

Kierkegaard mengatakan bahwa "percaya itu sama dengan menjadi" (credo ergo sum). Manusia lah yang menentukan hidupnya.

Waktu dan Keabadian

Setiap orang adalah campuran dari ketidakterhinggaan dan keterhinggaan. Manusia hidup dalam dua dimensi sekaligus : keabadian dan waktu. Kedua dimensi itu bertemu dalam 'saat'. Kita menjadi eksistensi dalam saat yaitu saat pilihan. 

Subjektivitas dan Eksistensi sebagai Tugas

Eksistensi manusia adalah tugas yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu. Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggung jawab. Eksistensi sejati memungkinkan individu mengambil dan memilih keputusan sendiri. 

Publik dan Individu

Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya bila dianggap nyata. 

Kierkegaard bukan menolak adanya kemungkinan bagi manusia untuk bergabung dengan yang lain. "Hanya setelah individu itu mencapai sikap etis barulah penggabungan bersama dapat disarankan. Kalau tidak, penggabungan individu yang lemah sama memuakkan seperti perkawinan anak-anak."

Sumber : Slide Presentasi Filsafat 3 Oktober 2014 dengan perubahan.



TUGAS TUTORIAL


Menurut saya, pemikiran Kierkegaard yang paling menarik adalah Eksistensi manusia yang individual dan konkrit. Hal ini menarik karena Kierkegaard mengatakan manusia "pada umumnya" tidak ada. Saya sangat setuju dengan pendapat Kierkegaard. Manusia memang tidak pernah ada yang sama, masing-masing memiliki keunikan tersendiri sehingga kita tidak bisa menggeneralisasi atau melihat manusia 'pada umumnya'. Manusia adalah makhluk yang unik, memiliki karakter, bentuk fisik, dan pengalaman yang berbeda. Seorang manusia itu tidak ada duanya. 
Kenyataannya, manusia sendiri merupakan suatu eksistensi. Eksistensi lah yang menjadikan manusia berbeda dari yang lain. Definisi eksistensi manusia lebih dalam dari sekedar 'berada'. Ini juga menarik. Manusia bereksistensi berarti manusia menciptakan dirinya sendiri. Secara aktif merencanakan, berbuat dan menjadi seperti apa yang dipikirkannya. Manusia lah yang menentukan pilihan. 

SEMOGA BERMANFAAT :)

FIELDTRIP ke PERKAMPUNGAN BETAWI

FIELDTRIP SETU BABAKAN


Dalam post kali ini, saya akan menceritakan pengalaman fieldtrip ke Perkampungan Betawi Setu Babakan yang berlokasi di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.



Hari Kamis, 2 Oktober 2014 PSIKOLOGI 2014 mengadakan fieldtrip ke Setu Babakan. Adapun, kegiatan ini diadakan sebagai kuliah lapangan dari blok Filsafat yang sedang kami tempuh. 



Kami wajib berkumpul maksimal jam 6.45 karena diadakan kuliah pengantar mengenai Seni, Budaya, Agama, dan Etos Kerja. Pengantar ini disampaikan oleh Pak Carolus dan Pak Raja yang sekaligus menjadi "guardian" kami bersama Pak Mikha. Kegiatan ini hanya berlangsung sekitar 40 menit. Kami dijelaskan mengenai lokasi, dan TUGAS yang harus dikerjakan selama disana. BANYAK SEKALI LOH TUGASNYA ! Tapi gapapa, yang penting jalan-jalan ga suntuk-suntuk amat di kelas he....he.....he. 



Setelah diadakan kuliah pengantar, kami semua dibagi ke dalam 3 bus berdasarkan kelas kami - Ya, kecuali kelas D yang memang harus dipencar-pencar. Tapi gapapa, the more the merrier, ya kan ? Ini loh penampakan bus yang kami pakai (Kelas A). 


MR. BUS yang bagus dan dingin.
Nah setelah itu, kami beranjak ke bus masing-masing. Seperti biasa, semua langsung sibuk mencari teman untuk duduk bersama. Saya juga. Di dalam bus, saya duduk bertiga dengan Stefanny dan Vania. Sepanjang perjalanan, kami malah curhat-curhatan. Padahal, Pak Carolus menginstruksikan untuk mengambil gambar ketika di bus. AH, ya sudahlah. Maaf Pak. (peace). Perjalanan kami tidak lama hanya sekitar 1 jam. Thanks to macetnya-Jakarta-yang-ga-usah-ditanya-lagi. 
Ketika sampai, kami mendapatkan pengarahan seperti biasa. Masuk dalam kelompok dan seperti yang sudah dijelaskan kami harus mewawancarai beberapa penduduk (boleh pedagang) di daerah itu, kami juga diminta untuk mengambil foto grup yang kreatif! Nah setelah pulang, hasil wawancara dan foto itu dimasukkan ke dalam laporan perjalanan kami. 
Kami pun bergegas mencari pedagang yang bisa diwawancarai dan kosong (tidak dikerumuni kelompok lain). Akhirnya, kami melihat pedagang kerak telor ! Hmmm... semua sepakat untuk mewawancarainya dan jajan tentu saja. Setelah selesai, kami diberikan makan siang. Padahal, di bus kami juga diberikan snack. Betapa baik dan pengertian panitianya. Terharu. 
Nah, selama disana kami mewawancarai beberapa orang termasuk seorang marinir... Ini diaa beberapa foto yang kami ambil. 

Pedagang Arum Manis

Pedagang Es Doger

Pedagang Soto Betawi

Pedagang Dodol

Marinir (Ray yang potret)
Itu hanya sebagian, hehehe. Oh ya, tidak hanya mewawancarai, tetapi kami juga diarahkan ke Pentas Kebudayaan dan Kesenian Betawi. Disana kami melihat Tarian Tradisional Betawi, makanan(lagi) dan Boneka Ondel-Ondel khas Betawi. Disana sebenarnya kami diminta untuk mewawancarai orang disana, tetapi karena bertabrakan dengan acara institusi lain. Kami tidak melakukan wawancara, hanya pengamatan. Ini dia foto kami dengan ondel-ondel.
Spirit to Share feat. Ondel-ondel

Setelah puas melihat pertunjukan, wawancara, dan makan (paling banyak). Kami semua dikumpulkan kembali jam 2.15. Setelah berfoto-foto, kami pulang dehh !! Di perjalanan, banyak yang tidur karena lelah. Menurut saya, perjalanan ke Setu Babakan sangat tidak terlupakan.

Bagi yang belum tahu Setu Babakan ini dia fotonya

Ini danau yang super kerennnn !!! di pinggirnya asik banget buat... ngobrol hehe

Ini Pintu Keluar Bang Pitung hehe 
Sebagai penutup, ini ada foto-foto SPIRIT TO SHARE ! Terimakasih telah membacaa !



SALAM SPIRIT TO SHARE !!!

Selasa, 30 September 2014

FILSAFAT MANUSIA : PENGETAHUAN DAN INTELEGENSI

FILSAFAT MANUSIA

Pengetahuan dan Intelegensi





PENGETAHUAN

Kompleksitas Pengetahuan Manusia

Pengetahuan merupakan nilai bagi makhluk yang mempunyainya baik bagi manusia, malaikat, maupun binatang. Pengetahuan adalah suatu kekayaan dan kesempurnaan. 

Pengetahuan dibagi menjadi dua, pengetahuan inderawi dan intelektif. Dikatakan inderawi lahir kalau ia mencapai secara langsung, melalui alat indera. Dikatakan inderawi batin ketika ia memperlihatkan pada kita dengan ingatan dan khayalan. 

Pengetahuan adalah : 
1. Perseptif, ketika muncul secara spontan
2. Reflektif, ketika membuat objek kodrat dari manusia realitas apapun juga. 
3. Diskursif, ketika memperhatikan suatu objek dari benda dengan prinsip seluruh-bagian, sebab-akibat, dan konsekuensi. 
4. Intuitif, ketika menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya. 
5. Induktif, ketika menarik yang universal dari individual
6. Deduktif, ketika menarik yang individual dari universal
7. Kontemplatif, ketika mempertimbangkan hal-hal dalam dirinya sendiri untuk dirinya sendiri. 
8. Spekulatif, ketika mempertimbangkan hal-hal dalam ide atau konsep-konsep tentang hal itu. 
9. Praktis, ketika mempertimbangkan hal-hal menurut cara mereka digunakan. 
10. Sinergis, ketika menggunakan seluruh keadaan dari subjek, keseluruhan organ dan kemampuan inderawi yang digunakan. 

Arti Pengetahuan 

Mengetahui merupakan kegiatan yang menjadikan subjek berkomunikasi secara dinamis dengan eksistensi dan kodrat dari "ada" benda-benda. 

Andaikan Pengetahuan 

A. Dari segi subjek, karakteristiknya : 
1. Keterbukaan : pengenal bisa menjadi sadar akan eksistensi dan kodrat realitas.
2. Kemampuan menyambut : objek yang dikenal mempengaruhi eksistensi subjek sendiri dan tinggal dalam bentuk gambar, ingatan, dan ide. 
3. Interioritas : adanya tempat dalam si pengenal dalam dirinya. 

B. Dari segi objek, karakterisitiknya : 
1. Terstruktur
2. Ditentukan
3. Mempunyai bentuk : esidos atau morphe (Yunani), species (Latin) yang berarti aspek dari suatu benda dan apa yang dibentuk oleh benda itu dan apa yang memberikan kepadanya dalam keadaan khas. 

INTELEGENSI

Istilah intelegensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (Latin). Intellegere terdiri dari kata intus yang berarti pikiran atau akal dan legere yang berarti membaca atau menangkap. Secara etimologis, intelegensi berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. 

Bukan Intelegensi Manusia

1. Pengetahuan inderawi, pengetahuan yang dihasilkan oleh indera eksten kita saja. Kita melihat sesuatu objek, tetapi tanpa mengenal kodratnya bahkan tanpa mencoba mengerti. 
2. Estimasi dan Kogitatif, menangkap sesuatu objek berguna atau merugikan, melihat objek itu dengan menangkat tanpa arti fundamental. 

Apa yang Bukan Seluruh Intelegensi Manusia

1. Insight, karena hal yang ditangkap insight harus dibuktikan dan diverifikasikan melalui jalan penalaran atau refleksi. 
2. Penalaran, karena mulai dari suatu putusan untuk sampai pada suatu putusan lain. 

Sifat dan Objek Intelegensi Manusia :

1. Objektif
2. Mendalam
3. Terstruktur
4. Tak terbatas

Segala penegasan, penilaian, simpulan, dan penalaran kita didasarkan pada : 
1. Prinsip identitas
2. Prinsip alasan yang mencukupi
3. Prinsip kausalitas efisien

Kegiatan Intelegensi Manusia

Kondisi apakah suatu intelegensi yang terjelma berkegiatan: 
1. Intelegensi merupakan salah satu kemampuan manusia dan beroperasi dengan partisipasi semua kemampuan lain. 
2. Apa yang dimengertinya selalu dipahami. 
3. Tak bisa memahami sesuatu secara mendalam dengan seketika, melainkan secara progresif, memerlukan waktu dan mengandaikan adanya intervensi yang konstan dari daya ingat. 
4. Intelegensi melalui aktivitas dinamisme intelektual saja, perlu kehendak, keyakinan, keberanian, dan kesabaran. 
5. Untuk dapat mengerti dibutuhkan bantuan dan kolaborasi, perlu informasi terhadap sutu objek, bimbingan penelitian, berpikir dalam hubungan dengan orang-orang lain. 

Kodrat Intelegensi Manusia

1. Intelegensi merupakan suatu keterbukaan dan kemampuan menerima yang murni, ia bersifat tak berubah dan mengandung norma-norma yang stabil. 
2. Intelegensi suatu kemampuan yang dapat diisolasi suatu penentuan aksidental atau sekunder, ia meresapi, mengkarakterisasi, mengspesialisasi substansi. 
3. Intelegensi mendasari martabat yaitu kemampuan mutlak, yaitu mendasari otonomi dan kebebasannya 

Sumber : Buku Pembelajaran Filsafat KBK Blok Filsafat hlm. 115 - 121


SLIDE PRESENTASI oleh SPIRIT TO SHARE


  



SEMOGA BERMANFAAT :)

Jumat, 26 September 2014

FILSAFAT MANUSIA : KEBEBASAN

KEBEBASAN 



JIWA DAN KEBEBASAN 

Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya. 

Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas. 

Karena jiwa lah manusia menjadi makhluk bebas.

Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan dasar penting bagi humanisme. 

DETERMINISME 

Merupakan aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. 

Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik : 
  • Determinisme Fisik - Biologis
  • Determinisme Psikologis 
  • Determinisme Sosial 
  • Determinisme Teologis 
KEBEBASAN SEBAGAI EKSISTENSI MANUSIA

Kelemahan determinisme : 
  1. Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia.
  2. Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya. 
  3. Menafikan adanya tanggung jawab. 
ARGUMEN TENTANG KEBEBASAN SEBAGAI EKSISTENSI MANUSIA 
  1. Manusia hidup dalam "kemungkinan dapat" / berhadapan dengan pilihan berbeda bobot. 
  2. Adanya tanggung jawab. 
  3. Makna perbuatan moral ada pada kebebasan. 
ARTI KEBEBASAN 

Pengertian Umum : Kebebasan Negatif , tidak ada hambatan ( tidak ada paksaan, tidak ada halangan, dan tidak ada aturan ). Akan tetapi, ini bukan kebebasan eksistensial. 

Pengertian Khusus : Kebebasan Eksistensial 
  • Penyempurnaan diri 
  • Kesanggupan memilih dan memutuskan 
  • Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan 
Jenis-jenis kebebasan : 
  1. Kebebasan horizontal = berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan 
  2. Kebebasan vertikal = berkaitan dengan moral 
  3. Kebebasan eksistensial = kebebasan positif dan lambang martabat manusia 
  4. Kebebasan sosial = berkaitan dengan orang lain 
Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial :
  1. Melibatkan pertimbangan 
  2. Mengedepankan nilai kebaikan 
  3. Menghidupkan otonomi
  4. Menyertakan tanggung jawab
4 Alasan adanya pembatasan "kebebasan sosial":
  1. Menyertakan pengertian 
  2. Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial 
  3. Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat 
  4. Terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial
Sumber : Slide Presentasi Filsafat 26 September 2014 dengan perubahan

Untuk lebih memahami materi KEBEBASAN. Kelompok kami, SPIRIT TO SHARE, membuat sebuah dialog imajinatif singkat tentang 2 Narapidana mengenai kebebasan.

Percakapan 2 Narapidana

Diceritakan ada 2 orang narapidana yang telah mendekam di penjara selama lebih dari 20 tahun. Suatu saat, tiba lah saat Narapidana 1 dinyatakan bebas. 

Malam sebelum hari kebebasan, di dalam sel

Narapidana 1 
Bro, akhirnya gua bebas juga.... 

Narapidana 2 
Kok lu senang banget ? 

Narapidana 1 
Iya lah !! Orang macam apa yang ga seneng dapet kebebasan ? 

Narapidana 2 
Lu yakin, Bro ? 

Narapidana 1 
Iya dong ! Apalagi ini berarti gua bisa ngelakuin apa pun yang gua suka... hahaha

Narapidana 2 
Lah... bukannya disini juga bisa, Bro ? Selama ini kita melakukan apa yang kita mau, ga pusing mikirin makanan lagi.. semua udah tersedia ! Kalau di luar sana.........

Narapidana 1 
Ah ! Sudahlah ! Lu cuma ngiri aja sama gua ! 

Narapidana 2 
Ya.... terserah lah.... 

Keesokan harinya, saat-saat yang ditunggu pun tiba, hari kebebasan Narapidana 1. Akan tetapi, kebebasan itu tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, Narapidana 1 kembali masuk sel yang sama. 

Narapidana 2 
Lah.... ? Kenapa lu disini lagi ? 

Narapidana 1 
Iya, gua sengaja ngebunuh orang... 

Narapidana 2 
Kenapa ? Bukannya lu mau bebas supaya bisa ngelakuin apa pun yang lu mau ? 

Narapidana 1 
Ternyata lu bener, Bro. Bebas bukan berarti bebas ngelakuin apapun yang kita mau. Kebebasan itu ga ada. Semakin kita mencoba bebas, semakin erat "rantai" kehidupan menjerat kita. Mendingan disini... seengganya ga perlu mikirin soal makan. 

Akhirnya, kedua narapidana "tinggal" dalam sel untuk waktu yang sangat lama. 

--Selesai--

SEMOGA BERMANFAAT :)